Suhu Memanas, Bakal Cakades di Nganjuk Mulai Serang Lawan dengan Manajemen Konflik, Pengamat : Bukan Zamannya Lagi

Ilustrasi

HEADTOPIC.COM, NGANJUK – Suhu politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Nganjuk tahun 2027 mulai terasa. Sejumlah bakal calon kepala desa bahkan mulai melakukan manuver politik dengan menyerang atau menjatuhkan calon lain, meski tahapan resmi Pilkades masih terbilang cukup jauh.

Manuver tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi manajemen konflik untuk melemahkan elektabilitas lawan sejak dini. Namun, langkah itu justru dinilai berisiko menjadi bumerang bagi bakal calon yang melakukannya.

Bacaan Lainnya

Pengamat politik Dr. Nurbani Yusuf menilai, menyerang lawan politik sebelum memasuki tahapan kontestasi bukan strategi yang efektif untuk meningkatkan elektabilitas.

Menurutnya, masyarakat saat ini semakin rasional dalam menentukan pilihan. Pemilih tidak hanya melihat siapa yang mampu menjatuhkan lawan, tetapi lebih mempertimbangkan gagasan, rekam jejak, kemampuan, serta sikap calon dalam membangun desa.

“Kalau menyerang lawan dianggap bisa menaikkan elektabilitas, saya kira justru sebaliknya. Bisa jadi elektabilitas penyerangnya yang turun karena masyarakat melihatnya tidak mampu menawarkan gagasan,” ujar Nurbani.

Ia menilai strategi politik dengan memainkan konflik dan menjatuhkan lawan sudah tidak terlalu relevan dengan karakter pemilih saat ini.

“Sekarang bukan zamannya lagi politik seperti itu. Masyarakat semakin cerdas dan pola politik semacam ini sudah tidak terlalu laku,” tegasnya.

Apalagi, tahapan Pilkades serentak Nganjuk 2027 masih panjang. Menurutnya, para bakal calon seharusnya memanfaatkan waktu untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, memperkuat program, serta menunjukkan kapasitas dan rekam jejak.

“Kalau tahapan saja masih jauh tetapi sudah saling menyerang, justru masyarakat bisa bertanya, apa yang sebenarnya ditawarkan kepada desa?” tambahnya.

Nurbani juga mengingatkan seluruh bakal calon agar tidak terjebak dalam politik yang berpotensi memecah masyarakat. Sebab, Pilkades bukan sekadar pertarungan antarcalon, tetapi momentum menentukan arah pembangunan desa untuk beberapa tahun ke depan.

Karena itu, kontestasi Pilkades 2027 diharapkan menjadi arena adu gagasan dan program, bukan sekadar adu serangan maupun upaya menjatuhkan lawan.

Masyarakat desa pun dinilai akan menjadi penentu terakhir. Siapa yang mampu meyakinkan pemilih dengan program nyata, rekam jejak, dan komunikasi politik yang sehat, akan memiliki peluang lebih besar memenangkan kontestasi.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *