HEADTOPIC.COM, NGANJUK – Aksi vandalisme bertuliskan “Stop MBG” mulai terlihat di sejumlah dinding yang berada di pinggir jalan Ahmad Yani, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kemunculan tulisan tersebut menjadi perhatian warga dan pengguna jalan yang melintas.
Vandalisme dengan pesan penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu ditemukan pada sejumlah titik pintu sebuah showroom sepeda motor dan toko yang tutup di kawasan yang mudah terlihat masyarakat. Belum diketahui secara pasti siapa yang membuat mural tersebut maupun kapan tulisan itu dibuat.
Kemunculan vandalisme tersebut terjadi di tengah perhatian publik terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya setelah muncul sejumlah kejadian dugaan keracunan makanan yang dialami penerima manfaat di berbagai daerah.
Di Nganjuk sendiri, program MBG juga sempat menjadi sorotan setelah sejumlah siswa mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu makanan yang dibagikan melalui program tersebut.
Peristiwa itu kemudian mendapat perhatian dari pihak sekolah, pemerintah daerah, kepolisian, hingga fasilitas kesehatan.
Pesan “Stop MBG” yang dituliskan melalui vandalisme tersebut memunculkan beragam respons. Sebagian masyarakat mempertanyakan keamanan dan kualitas makanan yang diberikan kepada penerima manfaat, sementara sebagian lainnya menilai program MBG tetap diperlukan untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak.
Sejumlah warga berharap pemerintah tidak hanya melihat munculnya mural sebagai bentuk kritik, tetapi juga menjadikannya bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program di lapangan.
“Kalau memang ada kritik dari masyarakat, sebaiknya pemerintah menjawab dengan evaluasi dan memastikan makanan yang diberikan benar-benar aman,” ujar Yuanto salah seorang warga yang melihat vandalisme tersebut, pada Jumat 4 September 2026.
Soal kapan di tulis nya vandalisme menurut Yuanto sepertinya sudah agak lama, Saya tahu tiba tiba sudah ada.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas pembuatan mural maupun apakah terdapat proses penyelidikan terkait pemasangan tulisan tersebut.
Yuanto herharap pemerintah daerah dapat memberikan penjelasan mengenai keberlanjutan program MBG di Nganjuk, termasuk langkah pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusinya kepada penerima manfaat.
“Munculnya mural “Stop MBG” menjadi gambaran bahwa persoalan keamanan pangan dalam program tersebut tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, tetapi juga mulai menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat,”pungkas Yuanto.***














