HEADTOPIC.COM, JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dugaan keracunan makanan terjadi secara beruntun di sejumlah daerah Indonesia dalam sepekan terakhir.
Sedikitnya terdapat sejumlah kejadian yang dilaporkan terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat hingga Aceh. Jika data sementara dari sejumlah daerah dijumlahkan, korban yang mengalami keluhan kesehatan mencapai lebih dari 1.600 orang, sementara laporan terbaru menyebut total kasus dalam sepekan berada di kisaran 1.700 orang.
Kasus paling besar terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan santri Pondok Pesantren Manba’ul Hikam dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program MBG. Data Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 September mencatat 512 orang terdampak, dengan sebagian korban masih menjalani perawatan dan observasi. SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut kemudian dikenai suspend berat selama 30 hari oleh BGN sambil menunggu hasil investigasi.
Kasus berikutnya terjadi di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Sebanyak 49 siswa SMAN 3 Nganjuk dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG pada 2 September. Para siswa mendapat penanganan medis dan penyebab pasti kejadian masih dalam penyelidikan.
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dugaan keracunan MBG terjadi di Kecamatan Palupuh. Dinas Kesehatan setempat mencatat 237 siswa mendapat penanganan setelah mengalami keluhan kesehatan. Dua di antaranya dirujuk ke rumah sakit di Bukittinggi. Sampel makanan juga telah diperiksa untuk mengetahui penyebab kejadian.
Sementara di Bener Meriah, Aceh, belasan siswa sekolah dasar di Kecamatan Timang Gajah juga dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG pada 2 September. Kasus tersebut bahkan mendapat perhatian setelah muncul laporan adanya larangan peliputan terhadap wartawan yang sedang meliput kejadian.
Kasus terbaru kembali muncul di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Hingga 3 September, sebanyak 136 siswa SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Makale dilaporkan menjalani perawatan di tiga rumah sakit setelah mengalami mual, muntah, diare dan pusing. Mereka sebelumnya mengonsumsi MBG dari SPPG Batupapan 1. Dinas Kesehatan setempat masih menunggu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya.
Di Rembang, Jawa Tengah, dugaan gangguan kesehatan juga terjadi di SMAN 1 Lasem. Laporan terbaru menyebut 725 siswa dan 25 guru, atau sekitar 750 orang, mengalami diare massal setelah menyantap menu MBG sehari sebelumnya. Tiga siswa dilaporkan harus menjalani rawat inap.
Dengan sejumlah kejadian tersebut, persoalan keamanan pangan dalam pelaksanaan MBG kembali menjadi perhatian. Reuters melaporkan lebih dari 1.700 siswa dan guru di Indonesia mengalami gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan program makanan gratis pemerintah dalam sepekan terakhir.
Namun demikian, penting dicatat bahwa angka tersebut merupakan data laporan dugaan kejadian, bukan berarti seluruh korban telah dipastikan mengalami keracunan akibat MBG. Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi masing-masing daerah.
Berulangnya kejadian dalam waktu berdekatan membuat pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), kualitas bahan baku, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi makanan menjadi sorotan.
BGN sendiri menyatakan investigasi terhadap kasus Sidoarjo dilakukan bersama pemerintah daerah dan dinas kesehatan. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan penyebab insiden tersebut.
Rentetan kasus ini kembali memunculkan pertanyaan besar: apakah sistem pengawasan MBG sudah mampu menjamin makanan yang dibagikan kepada jutaan penerima benar-benar aman dikonsumsi?***













