Suhu Politik Pilkades Nganjuk Mulai Memanas, Manajemen Konflik Jadi Modal Utama

Ilustrasi

HEADTOPIC.COM, NGANJUK – Suhu politik menjelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa atau Pilkades di Kabupaten Nganjuk mulai menghangat. Sejumlah bakal calon kepala desa mulai menunjukkan aktivitas politik dan membangun komunikasi dengan masyarakat.

Di tengah persaingan yang mulai terasa, kemampuan mengelola konflik dinilai menjadi salah satu modal penting bagi para bakal calon. Sebab, kontestasi Pilkades tidak hanya menyangkut persaingan antarcalon, tetapi juga berpotensi memunculkan gesekan di tengah masyarakat.

Bacaan Lainnya
Dr. Nurbani Yusuf, M.Si. adalah seorang dosen, pengamat sosial-politik, dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menilai, para bakal calon sebaiknya tidak terlalu dini menunjukkan klaim maupun menyerang calon lain. Menurutnya, langkah tersebut justru kurang elegan dan berpotensi memperkeruh suasana sebelum tahapan Pilkades berlangsung.

“Kalau baru menjelang kontestasi sudah saling menyerang atau menunjukkan seolah-olah paling kuat, itu kurang elegan. Lebih baik semua calon membuktikan kapasitas dan elektabilitasnya dalam kontestasi nanti,” ujar Nurbani.

Menurutnya, masyarakat desa saat ini semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Karena itu, calon kepala desa seharusnya lebih banyak menawarkan gagasan, program, serta rekam jejak, daripada membangun opini dengan menjatuhkan lawan.

Manajemen konflik juga dinilai penting dilakukan bukan hanya oleh para calon, tetapi seluruh pihak yang terlibat dalam Pilkades. Mulai dari panitia, pemerintah desa, tokoh masyarakat, hingga pendukung masing-masing calon.

Jangan sampai perbedaan pilihan politik berubah menjadi konflik antarwarga yang berkelanjutan setelah Pilkades selesai.

Pengamat berharap seluruh bakal calon dapat menjaga kondusivitas dan menunjukkan kedewasaan politik. Persaingan, menurutnya, merupakan hal wajar dalam demokrasi, tetapi harus dilakukan secara sehat dan bermartabat.

“Yang paling penting bukan siapa yang paling keras menyerang lawan, tetapi siapa yang mampu meyakinkan masyarakat dengan program dan integritasnya. Pembuktian sesungguhnya ada di dalam kontestasi nanti,” tegasnya.

Dengan tahapan Pilkades yang semakin mendekat, masyarakat Nganjuk kini menanti pertarungan politik di tingkat desa yang diharapkan berlangsung demokratis, aman, dan tanpa memecah persaudaraan.

Pengamat juga mengingatkan para bakal calon agar tidak menjadikan isu pribadi maupun serangan politik sebagai strategi utama untuk meningkatkan elektabilitas.

“Menyerang lawan bukan jaminan elektabilitas akan naik. Justru masyarakat bisa melihat siapa yang mampu menjaga etika dan siapa yang menawarkan solusi untuk kemajuan desa,” tambahnya.

Dengan Pilkades serentak yang masih akan berlangsung pada 2027, para bakal calon dinilai masih memiliki cukup waktu untuk membangun komunikasi dengan masyarakat secara sehat.

Kontestasi politik desa diharapkan tidak hanya menghasilkan kepala desa yang memenangkan suara terbanyak, tetapi juga mampu menjaga persatuan masyarakat setelah proses pemilihan berakhir.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *