Raksasa Telekomunikasi Indonesia Bakal Dibubarkan Danantara

oleh

HEAD TOPIC.COM – Isu mengenai raksasa telekomunikasi Indonesia bakal “dibubarkan” oleh Danantara mulai ramai diperbincangkan setelah muncul kabar PT Telkom Indonesia diminta menutup sejumlah anak usahanya dalam program perampingan besar-besaran BUMN.

Namun, yang terjadi bukan pembubaran perusahaan induk Telkom, melainkan restrukturisasi dan efisiensi bisnis di bawah pengawasan Danantara Indonesia.

Direktur Strategic Business Development and Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengungkapkan bahwa Danantara meminta Telkom menutup 10 anak perusahaan pada akhir Juni 2026.

Langkah tersebut dilakukan untuk memangkas unit usaha yang dinilai tumpang tindih dan tidak optimal dalam dua tahun terakhir.

Saat ini Telkom diketahui memiliki sekitar 67 anak perusahaan. Danantara disebut ingin merampingkan struktur bisnis agar lebih fokus pada bisnis inti telekomunikasi dan digital, sekaligus memperkuat efisiensi pengelolaan aset negara.

Pengamat menilai langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa era “gemuk” BUMN mulai berakhir. Banyak anak usaha selama ini dianggap hanya menjadi beban operasional, memiliki bisnis serupa, hingga minim kontribusi keuntungan. Di sisi lain, restrukturisasi besar-besaran juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi PHK, konsolidasi kekuasaan bisnis negara, hingga nasib proyek-proyek digital Telkom Group di masa depan.

Danantara sendiri merupakan superholding investasi negara bentukan pemerintahan Prabowo Subianto yang kini mengelola aset jumbo berbagai BUMN strategis, termasuk Telkom, PLN, Pertamina hingga bank-bank pelat merah. Nilai aset yang berada di bawah kendali Danantara disebut mencapai ribuan triliun rupiah.

Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi bahwa Telkom sebagai perusahaan induk akan dibubarkan. Yang terjadi lebih kepada “bersih-bersih” anak usaha sebagai bagian transformasi korporasi menuju holding yang lebih ramping dan agresif menghadapi persaingan digital global.

Sementara Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berencana membubarkan PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) atau PT INTI. Langkah likuidasi ini dipicu oleh tata kelola dan pola kerja BUMN yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Kabar ini disampaikan oleh Dony Oskaria, Kepala Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara.

“Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN terkenal, kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal sekarang menghadapi permasalahan mungkin akan kita tutup juga,” ujar Dony dalam Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Senin (25/5/2026).

BUMN teknologi yang didirikan sejak 30 Desember 1974 ini sempat menjadi tulang punggung infrastruktur telekomunikasi nasional.

Hingga saat ini, PT INTI sebenarnya masih beroperasi memproduksi kabel serat optik, tabung LPG composite, serta merakit berbagai perangkat cerdas seperti smart energy devices, produk broadband, dan kartu cerdas melalui proses konversi bahan baku menjadi barang jadi bernilai tambah.

Dony mengungkapkan bahwa akar masalah sulitnya menyelamatkan BUMN yang sekarat adalah tiadanya mekanisme saling bantu antarperusahaan negara. Di bawah regulasi sebelumnya, Kementerian BUMN hanya memiliki kuasa kelola dan bukan pemilik langsung, sehingga BUMN yang sehat tidak bisa menyokong BUMN yang sedang krisis.

“Tetapi karena tidak ada mekanisme untuk membantu satu BUMN dan BUMN lain, menyebabkan sulit untuk kita melakukan perbaikan,” paparnya.

Kini, kehadiran Danantara diharapkan menjadi solusi total. Dengan mengonsolidasikan seluruh BUMN ke dalam satu holding company, sekat birokrasi tersebut runtuh sehingga proses penyehatan perusahaan negara ke depan dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah.***