Apa Sebabnya Kini Hewan Kurban Sepi Dijual di Pinggir Jalan?

oleh
Salah satu lapak penjual hewan sedang di sidak oleh Puskeswan ( Istimewa)

HEAD TOPIC.COM – Menjelang perayaan Idul Adha 1477 H, pemandangan lapak penjual hewan kurban di pinggir jalan yang dahulu ramai dan berjejer panjang kini mulai berkurang di berbagai daerah. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apa sebenarnya penyebab penjualan hewan kurban di pinggir jalan sekarang terlihat sepi?

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga mulai terasa di daerah-daerah seperti Nganjuk dan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur. Banyak pedagang mengaku jumlah pembeli menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, sementara lapak dadakan yang biasanya mudah ditemukan kini tidak sebanyak dulu.

Salah satu penyebab utama diduga karena perubahan pola pembelian masyarakat. Saat ini, banyak warga memilih membeli hewan kurban langsung dari peternak, kelompok ternak, maupun melalui sistem online dan media sosial. Pembeli dianggap lebih percaya membeli langsung ke kandang karena bisa melihat kondisi hewan secara detail sekaligus mendapatkan harga yang dinilai lebih kompetitif.

Selain itu, maraknya program kurban kolektif dari masjid, lembaga sosial, hingga perusahaan juga memengaruhi pasar hewan kurban tradisional. Banyak lembaga kini bekerja sama langsung dengan peternak besar sehingga distribusi hewan tidak lagi bergantung pada lapak-lapak pinggir jalan.

Faktor ekonomi juga menjadi penyebab yang tidak bisa diabaikan. Kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat sebagian warga memilih menunda atau mencari alternatif kurban dengan biaya lebih ringan. Harga pakan ternak yang naik dalam beberapa tahun terakhir ikut mendorong kenaikan harga sapi maupun kambing.

Di sisi lain, para pedagang mengaku biaya membuka lapak di pinggir jalan juga semakin tinggi. Mulai dari sewa tempat, transportasi hewan, kebutuhan pakan harian, hingga risiko hewan sakit atau tidak terjual menjadi pertimbangan besar. Akibatnya, banyak pedagang kecil memilih tidak lagi membuka lapak musiman seperti sebelumnya.

Beberapa warga juga mulai mempertimbangkan faktor kebersihan dan kemacetan. Di sejumlah daerah, pemerintah melakukan penertiban lapak yang dianggap mengganggu lalu lintas maupun estetika kota. Kondisi ini membuat penjual harus mencari lokasi yang lebih terbatas dan kurang strategis.

Meski demikian, sebagian pedagang masih berharap momentum mendekati hari raya dapat meningkatkan penjualan. Mereka menilai tradisi membeli hewan kurban secara langsung tetap memiliki daya tarik tersendiri karena pembeli bisa melihat fisik hewan secara nyata sebelum transaksi dilakukan.

Kini, perubahan pola perdagangan hewan kurban menjadi tanda bahwa tradisi lama mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman. Lapak pinggir jalan yang dahulu menjadi pusat keramaian menjelang Idul Adha perlahan menghadapi tantangan baru dari perubahan ekonomi, teknologi, dan perilaku masyarakat.***