Nasib Tokoh Nasional Asal Nganjuk Seperti Ditelan Modernisasi, Monumen dan Museum dr Soetomo Terbengkalai

oleh
Kondisi museum dr Soetomo di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret Nganjuk (Istimewa)

HEAD TOPIC.COM – Tokoh kebangkitan nasional dr. Soetomo seakan mulai tenggelam di tengah derasnya arus modernisasi. Monumen dan museum yang berdiri di tanah kelahirannya di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, kini dinilai semakin kehilangan perhatian dan gaung sejarahnya.

Di tengah maraknya pembangunan wisata modern, pusat perbelanjaan, hingga destinasi hiburan kekinian, keberadaan Museum dan Monumen dr Soetomo justru seperti berjalan di tempat. Bangunan yang seharusnya menjadi simbol penghormatan terhadap tokoh nasional itu tampak sunyi, minim pengunjung, dan mulai memunculkan kesan terbengkalai.

Museum tersebut menyimpan berbagai benda bersejarah milik dr Soetomo, mulai alat-alat medis, foto perjuangan, buku pribadi berbahasa Belanda dan Jerman, hingga dokumentasi organisasi Boedi Oetomo yang menjadi tonggak Kebangkitan Nasional Indonesia.

Namun ironisnya, sejak bertahun-tahun lalu kondisi museum sudah menjadi sorotan. Laporan media bahkan pernah menggambarkan suasana museum kusam, atap bocor, koleksi mulai usang dan berkarat, hingga area sekitar yang kurang terawat.

Padahal, kompleks monumen yang dibangun di lokasi kelahiran dr Soetomo itu memiliki nilai historis besar. Monumen tersebut diresmikan tahun 1986 dan berdiri di bekas kediaman kakek dr Soetomo, Raden Ng Singawijaya.

Kini muncul pertanyaan besar dari masyarakat dan pegiat sejarah: apakah bangsa ini mulai lupa menghargai jejak para pendiri kebangkitan nasional?

Modernisasi memang terus bergerak, namun sebagian masyarakat menilai pembangunan fisik tidak boleh menghapus memori sejarah. Museum seharusnya bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang edukasi, wisata sejarah, dan pengingat identitas bangsa.

Sejumlah pemerhati budaya juga menilai museum di daerah sering kalah pamor karena kurang inovasi dan minim sentuhan digitalisasi.

Di era media sosial dan wisata interaktif, museum konvensional dinilai perlu bertransformasi agar tidak ditinggalkan generasi muda.

Jika tidak segera dibenahi, bukan hanya bangunannya yang lapuk dimakan usia, namun juga nilai perjuangan dr Soetomo yang perlahan bisa memudar dari ingatan masyarakat, terutama generasi muda di tanah kelahirannya sendiri, Nganjuk.

Menelusuri Jejak dr Soetomo, Tokoh Nasional Kebangkitan Bangsa dari Nganjuk

Nama Dr. Soetomo menjadi salah satu figur penting dalam sejarah lahirnya kesadaran kebangsaan Indonesia. Namun di tengah perubahan zaman, jejak perjuangannya di tanah kelahirannya sendiri, Kabupaten Nganjuk perlahan terasa semakin samar.

dr Soetomo lahir di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, pada 30 Juli 1888. Dari desa sederhana itulah lahir seorang tokoh yang kelak menjadi penggerak organisasi Budi Utomo, organisasi modern pertama yang menjadi tonggak Kebangkitan Nasional Indonesia pada 1908.

Perjalanan hidup dr Soetomo dikenal penuh perjuangan. Ia menempuh pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia atau sekarang Jakarta. Di lingkungan pendidikan itulah semangat perubahan mulai tumbuh di kalangan pelajar pribumi.

Kukuh Septiarinto selaku penjaga monumen dan museum dr Soetomo mengaku, kurang mengetahui jelas tentang sejarah perjuangan dr Soetomo.

“Setahu saya, beliaunya asal Nganjuk dan pernah membuka praktik kedokteran di tanah kelahiran yaitu di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret,” kata Kukuh, Sabtu (24/5/2026).

Bersama para pelajar lain, dr Soetomo ikut menggagas lahirnya Budi Utomo, organisasi yang mendorong kemajuan pendidikan, persatuan, dan kesadaran nasional masyarakat pribumi saat masih berada di bawah penjajahan Belanda. Organisasi tersebut kemudian dikenang sebagai awal lahirnya pergerakan nasional Indonesia.

Jejak sejarah itu sesungguhnya masih tersimpan di Desa Ngepeh melalui Museum dan Monumen dr Soetomo. Di lokasi tersebut tersimpan berbagai peninggalan penting, mulai alat praktik medis, foto dokumentasi perjuangan, surat-surat lama, hingga buku koleksi pribadi dr Soetomo yang sebagian menggunakan bahasa Belanda dan Jerman.

Namun kondisi museum kini menjadi sorotan. Minimnya perawatan dan rendahnya perhatian publik membuat situs sejarah itu kalah gaung dibanding tempat wisata modern. Sebagian bangunan tampak menua, suasana museum sepi, bahkan generasi muda banyak yang belum pernah mengunjunginya.

Padahal jika dikelola serius, jejak dr Soetomo dapat menjadi pusat wisata sejarah dan pendidikan nasional di Nganjuk. Banyak daerah di Indonesia berhasil menghidupkan wisata sejarah melalui digitalisasi museum, pertunjukan interaktif, hingga kegiatan edukasi pelajar.

Sejumlah pegiat budaya menilai pelestarian jejak tokoh nasional bukan hanya soal menjaga bangunan tua, tetapi menjaga memori kolektif bangsa. Sebab dari tokoh seperti dr Soetomo, bangsa Indonesia belajar tentang pentingnya pendidikan, persatuan, dan keberanian melawan keterbelakangan.

Kini muncul harapan agar pemerintah daerah, komunitas sejarah, akademisi, hingga generasi muda bisa bersama-sama menghidupkan kembali jejak perjuangan dr Soetomo. Jangan sampai tokoh besar yang pernah membangunkan kesadaran bangsa justru terlupakan di kampung halamannya sendiri.***