HEADTOPIC.COM, BANTEN – Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi menerus sejak Sabtu (5/9) malam. Aktivitas vulkanik tersebut disertai semburan lava pijar dan suara dentuman yang dilaporkan terdengar hingga sejumlah wilayah di Banten, Lampung, dan Jawa Barat.
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), erupsi berlangsung sejak sekitar pukul 23.07 WIB hingga setidaknya pukul 04.40 WIB. Semburan berwarna merah menyala yang terlihat dari kejauhan mengindikasikan adanya fenomena lava fountain atau lava air mancur.
Aktivitas erupsi juga berdampak pada sektor penerbangan. Abu vulkanik terdeteksi menyebar hingga wilayah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kementerian Perhubungan kemudian melakukan penutupan sementara bandara pada Minggu dini hari sebagai langkah keselamatan penerbangan. Sebanyak 33 penerbangan tercatat terdampak, termasuk penerbangan domestik dan internasional.
Badan Geologi menjelaskan bahwa suara dentuman yang terdengar hingga Bandung Raya diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Gelombang suara berfrekuensi rendah dari letusan dapat merambat hingga ratusan kilometer melalui atmosfer.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, dan pengunjung dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung karena masih terdapat potensi lontaran material pijar, aliran lava, awan panas, dan hujan abu vulkanik.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Berdasarkan evaluasi hingga saat ini, kondisi Gunung Anak Krakatau tidak menunjukkan potensi keruntuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik diminta menggunakan pelindung pernapasan dan mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, BNPB, serta pemerintah daerah.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
BMKG terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap perkembangan erupsi, terutama terhadap sebaran abu vulkanik yang dapat berdampak pada kualitas udara, aktivitas masyarakat, serta keselamatan penerbangan. Berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanik terdeteksi meliputi wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu.
Masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus beraktivitas di luar rumah, warga dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata untuk mengurangi risiko gangguan akibat paparan abu.
BMKG juga meminta masyarakat dan pengguna jasa penerbangan untuk terus mengikuti informasi resmi terkait perkembangan sebaran abu vulkanik. Kondisi atmosfer dan arah pergerakan abu dapat berubah mengikuti pola angin sehingga pemantauan dilakukan secara berkelanjutan.
Untuk sektor penerbangan, BMKG telah menerbitkan peringatan meteorologi penerbangan atau SIGMET secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan navigasi udara. Hingga 6 September 2026, BMKG telah menerbitkan 50 SIGMET terkait kondisi tersebut.
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak panik dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengutamakan informasi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah.***











