HEADTOPIC.COM – Keputusan Presiden Prabowo Subianto memindahkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri menjadi Kepala Staf Kepresidenan (KSP) dinilai sebagai strategi cerdik.
Mengutip pernyataan Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) pada tribun.video.com, Mahfud MD, menilai langkah tersebut taktis untuk merangkul sekaligus mengendalikan potensi gangguan politik di luar pemerintahan.
Ia menilai, penempatan Listyo Sigit di KSP, bersama sejumlah jenderal bintang tiga lainnya, merupakan bagian dari strategi ‘pengurungan’ agar tidak memicu resah politik atau pergerakan di luar kendali istana.
Dikutip dari kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (7/10/2026), Mahfud menyoroti pergeseran mengejutkan yang menempatkan Listyo Sigit di KSP, sebuah lembaga non-konstitusional yang fungsinya dinilai tidak sejurus dengan posisi strategis kepolisian.
Diketahui, Listyo Sigit digantikan oleh Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto pada Kamis (1/10/2026).
“Lalu ke mana Listyo? Listyo Sigit itu dipindah ke KSP. KSP itu enggak ada fungsinya di konstitusi, juga enggak ada,” ujar Mahfud MD.
Ia menambahkan bahwa langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa, melainkan bentuk kecerdikan politik Presiden Prabowo dalam mengunci manuver figur-figur kunci.
“Artinya apa itu? Itu bukan hanya digeser menurut saya. Menurut saya cerdik Prabowo, dikurung. Karena kalau dilepas di luar, itu kan bisa berbahaya. Artinya bisa mengganggu lah. Bahaya sih enggak, tapi bisa mengganggu. Kurung saja di sini.”
Menurut Mahfud, penempatan Listyo Sigit bersama para perwira tinggi bintang tiga di lingkungan KSP bertujuan menjaga stabilitas nasional, sehingga potensi dorongan politik yang berseberangan dapat diminimalkan.
Soal Pengumuman Mendadak
Mahfud MD juga mengungkapkan bahwa proses pergantian Kapolri dilakukan secara mendadak dan sangat dirahasiakan hingga saat-saat terakhir.
Hal ini sengaja dilakukan untuk mengantisipasi masuknya tekanan atau intervensi politis yang berulang kali membatalkan rencana perombakan pada momen-momen sebelumnya.
“Buktinya Listyo masih ikut acara di Lubang Buaya bersama Presiden. Lalu ketika dia diberi kabar bahwa dia akan diganti, dia sedang ada acara. Diberitahu begitu, artinya mendadak,” kata Mahfud.
Ia menjelaskan, rencana penggantian Kapolri sebenarnya sudah beberapa kali mengemuka namun kerap kandas di tengah jalan akibat dinamika politik elite.
“Sehingga kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, enggak jadi terus. Sehingga yang terakhir ini menurut saya Pak Prabowo mengambil taktik: enggak usah diberitahu dulu. Makanya pemberitahuannya mendadak tanggal 1, jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal.”
Pengiriman surat ke DPR RI dan pelaksanaan fit and proper test terhadap calon Kapolri baru, Jenderal Suyudi Ario Seto, bahkan diselesaikan secara kilat pada hari yang sama usai upacara peringatan di Lubang Buaya.
Menurut Mahfud, pergantian kepemimpinan di tubuh Korps Bhayangkara ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Presiden Prabowo ingin menegaskan independensi dan ketegasannya dalam mengendalikan roda pemerintahan secara penuh.
“Saya juga cukup memahami bahwa langkah reshuffle mengganti Kapolri dan Pak Pratikno dari kabinet ini dianggap sebagai bagian penting dari upaya Prabowo menegaskan sikapnya sebagai seorang pemimpin yang mandiri,” terang Mahfud.***
Sumber : tribun.com

























