headtopic.com – Nama Bagus Budiarto mulai ramai diperbincangkan seiring berdirinya Museum Marsinah yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Sosok ini disebut berada di balik konsep desain dan pembangunan museum yang kini menjadi simbol perjuangan buruh perempuan Indonesia.
Museum Marsinah sendiri dibangun sebagai ruang sejarah untuk mengenang perjuangan Marsinah, aktivis buruh asal Nganjuk yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Kompleks museum tersebut berdiri di atas lahan sekitar 938 meter persegi dan dilengkapi rumah singgah bagi pengunjung.
Desain bangunan museum yang megah namun tetap mempertahankan nuansa sederhana kampung halaman Marsinah menjadi perhatian publik. Bangunan bercat putih dengan ruang pamer modern itu menampilkan berbagai koleksi pribadi Marsinah, mulai dari sepeda ontel, seragam kerja, ijazah sekolah hingga dokumen perjuangan buruh.
Meski nama Bagus Budiarto mulai dikaitkan sebagai sosok penting di balik proses desain dan pembangunan museum, hingga kini belum banyak informasi resmi yang dipublikasikan terkait profil lengkap maupun latar belakang profesionalnya.
Namun, keberadaan Museum Marsinah dinilai berhasil menghadirkan perpaduan antara arsitektur memorial, edukasi sejarah, dan pengembangan wisata budaya di Kabupaten Nganjuk.
Desain megah dan cepatnya pembangunan Museum Ibu Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk ternyata didesain oleh pria asal Surabaya.
Dia adalah Ir Bagus Budiarto. Pria 48 tahun asli Surabaya inilah yang mendesain Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah, yang telah diresmikan Presiden RI Prabowo Subianto pada 16 Mei 2026 lalu.
“Saya mengajukan desain itu dengan revisi sampai empat kali baru final dan dikerjakan,” ungkap Bagus Jumat (22/5/2026).
Desain yang diajukan Bagus itu disetujui dalam forum yang dihadiri KSPI, kepolisian dan Istana Negara.
“Setelah desain disetujui, kami mulai mengerjakan museum dan rumah singgah pada 3 Januari 2026,” ujar Bagus.
Untuk menggarap proyek Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah itu, Bagus mengerahkan 60 orang pekerja. Karena target yang ditentukan cukup singkat.
“Kami kerja siang dan malam, hingga proyek itu berhasil kami selesaikan pada 28 Maret 2026. Ya sekitar dua bulan lebih atau hampir tiga bulanan,” beber Alumni Teknik Sipil ITS tersebut.
Mengerjakan museum ini, bukan tanpa kendala. Bagus menyebut bahwa faktor cuaca yang saat itu masih kerap hujan, menjadi tantangan tersendiri.
“Cuaca saat itu menjadi tantangan bagi kami. Tapi dengan pengawasan ketat dan kinerja yang disiplin, kami mampu menyelesaikan pembangunan sesuai target,” tegasnya.
Bagus bersyukur, Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah itu telah diresmikan oleh Presiden Prabowo dan tidak ada satu pun yang perlu direvisi.
“Proyek ini menjadi sebuah kebanggaan bagi kami. Karena museum itu didirikan setelah Ibu Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional,” kata Bagus.
Sebelumnya Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea menyebut bahwa Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah dibangun secara gotong royong, dengan anggaran hampir Rp3,8 miliar.
Kata Andi Gani, anggaran itu sepenuhnya berasal dari dana gotong royong keluarga besar KSPSI, tanpa menggunakan APBN maupun APBD.
Menurutnya, kekuatan ekonomi koperasi buruh menjadi fondasi utama pembangunan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah tersebut.
“Total anggaran museum ini mencapai hampir Rp3,8 miliar. Saya pastikan tidak ada dana pemerintah, tidak ada APBN maupun APBD. Semua berasal dari gotong royong keluarga besar KSPSI AGN,” tegas Andi Gani usai peresmian.
Andi Gani menyampaikan bahwa pembangunan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan Marsinah sebagai simbol perjuangan kaum buruh Indonesia.
“Ini bentuk penghormatan kami kepada Ibu Marsinah sebagai pejuang buruh. Karena itu museum ini dibangun secara gotong royong oleh keluarga besar KSPSI di seluruh Indonesia,” pungkasnya.***















Komentar