HEADTOPIC.COM – Nasional – Ketidaksesuaian Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) kembali menjadi sorotan. Sejumlah warga mengaku memiliki penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan, namun dalam pemeringkatan kesejahteraan justru masuk dalam desil 6 hingga 10.
Kondisi tersebut dinilai tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan ekonomi warga di lapangan. Dengan penghasilan yang relatif terbatas, warga harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Warga berharap proses verifikasi dan validasi DTSEN dapat dilakukan secara lebih akurat dengan mempertimbangkan kondisi riil keluarga, bukan hanya berdasarkan data administratif.
Ketidaktepatan pemeringkatan dikhawatirkan berdampak pada akses masyarakat terhadap sejumlah program bantuan sosial. Warga yang sebenarnya membutuhkan bantuan bisa saja tidak masuk dalam prioritas karena posisi desilnya dinilai lebih tinggi.
Supriani salah satu warga mengaku kaget dan terkejut ketika DTSEN nya di lihatkan oleh anaknya.” Saya kaget, padahal kerja saya buruh tani, yang se hari hari di sawah milik orang dan penghasilan saya berapa? kan mas tahu sendiri,” ucap Supriani.
Pemerintah desa diharapkan dapat melakukan pengecekan ulang terhadap data warga, termasuk kondisi pekerjaan, penghasilan, jumlah tanggungan keluarga, kepemilikan aset, serta kondisi tempat tinggal.
Masyarakat juga diminta aktif melaporkan apabila terdapat data yang tidak sesuai. Dengan pembaruan dan verifikasi secara berkala, DTSEN diharapkan benar-benar menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sehingga bantuan pemerintah dapat diberikan secara tepat sasaran.
Banyak Data DTSEN Dinilai Tak Sesuai Kondisi Penghasilan Warga
Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) di sejumlah wilayah dinilai masih belum sepenuhnya menggambarkan kondisi ekonomi masyarakat di lapangan. Sejumlah warga yang tercatat dalam data penerima bantuan sosial disebut sudah mengalami perubahan kondisi penghasilan, sementara warga lain yang dinilai lebih membutuhkan justru belum masuk dalam daftar.
Ketidaksesuaian data tersebut menjadi perhatian karena DTSEN menjadi salah satu basis penting dalam penentuan sasaran berbagai program bantuan pemerintah. Perubahan kondisi ekonomi masyarakat yang cukup cepat membuat data perlu diperbarui secara berkala agar bantuan benar-benar diterima warga yang berhak.
Di lapangan, masih ditemukan warga yang secara ekonomi tergolong mampu tetapi namanya tercatat dalam kelompok penerima bantuan. Sebaliknya, ada pula keluarga dengan penghasilan tidak menentu dan kondisi ekonomi pas-pasan yang belum terakomodasi.
Kondisi ini membuat pemerintah desa bersama perangkat terkait perlu melakukan verifikasi dan validasi data secara langsung. Pendataan dari rumah ke rumah dinilai penting untuk memastikan kondisi pekerjaan, jumlah anggota keluarga, penghasilan, serta kepemilikan aset warga sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Pemerintah daerah juga diharapkan membuka ruang pengaduan bagi masyarakat yang merasa data sosial ekonominya tidak sesuai. Dengan demikian, perubahan status ekonomi warga dapat segera diperbaiki dan tidak menimbulkan kecemburuan sosial.
Pembenahan DTSEN diharapkan tidak hanya berorientasi pada jumlah penerima bantuan, tetapi juga memastikan ketepatan sasaran. Data yang akurat menjadi kunci agar program perlindungan sosial pemerintah benar-benar mampu membantu masyarakat yang membutuhkan.
Data Penghasilan Warga Tak Sesuai DTSEN, Sensus Ekonomi dan BPS
Ketidaksesuaian data penghasilan warga dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) memunculkan pertanyaan terhadap proses pendataan kondisi ekonomi masyarakat. Warga dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta per bulan disebut justru masuk dalam kelompok desil 6 hingga 10.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya persoalan dalam akurasi data sosial ekonomi di tingkat masyarakat. Jika penghasilan dan kondisi riil warga tidak tercermin dalam data, penentuan sasaran program pemerintah berpotensi tidak tepat.
Persoalan ini juga memunculkan sorotan terhadap pelaksanaan pendataan ekonomi yang dilakukan pemerintah, termasuk peran Badan Pusat Statistik (BPS). Masyarakat mempertanyakan apakah data hasil sensus dan pendataan ekonomi telah diperbarui serta mampu menggambarkan perubahan kondisi penghasilan warga secara aktual.
Namun, untuk menyebut sensus ekonomi atau BPS gagal diperlukan evaluasi dan data pembanding yang jelas. Ketidaksesuaian pada DTSEN tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh proses sensus BPS gagal, karena DTSEN melibatkan integrasi berbagai sumber data dan proses pemutakhiran.
Karena itu, warga mendorong pemerintah melakukan verifikasi lapangan secara menyeluruh. Data penghasilan, jumlah tanggungan, pekerjaan, kepemilikan aset, dan kondisi tempat tinggal perlu diperiksa kembali agar pemeringkatan kesejahteraan benar-benar sesuai kondisi masyarakat.
Akurasi data menjadi sangat penting karena kesalahan pemeringkatan dapat berdampak langsung terhadap akses warga terhadap program bantuan sosial maupun program pemerintah lainnya. Masyarakat berharap pemerintah membuka mekanisme koreksi yang mudah dan transparan bagi warga yang merasa datanya tidak sesuai.
Bisa dilanjutkan dengan bagian penjelasan Menteri Sosial, tetapi sebaiknya tidak membuat kutipan langsung yang belum terverifikasi.
Menteri Sosial Tegaskan DTSEN Harus Terus Dimutakhirkan
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) harus terus diperbarui dan diverifikasi agar kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tercatat benar-benar sesuai dengan keadaan di lapangan.
Menurutnya data sosial ekonomi bersifat dinamis. Kondisi penghasilan, pekerjaan, jumlah tanggungan, hingga keadaan rumah tangga masyarakat dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, diperlukan pemutakhiran dan verifikasi agar masyarakat yang berhak mendapatkan bantuan tidak justru terlewat.
“Persoalan warga dengan penghasilan sekitar Rp1,5 juta tetapi masuk dalam desil 6 hingga 10 juga perlu diperiksa melalui mekanisme pemutakhiran data. Posisi desil tidak hanya ditentukan berdasarkan besarnya penghasilan bulanan, tetapi menggunakan sejumlah indikator sosial ekonomi rumah tangga,” jelas Gus Ipul.
Menteri Sosial Gus Ipul juga mendorong masyarakat yang merasa datanya tidak sesuai untuk menyampaikan keberatan melalui mekanisme yang tersedia. Pemerintah daerah dan pemerintah desa diharapkan ikut membantu melakukan pengecekan kondisi warga di lapangan.
Dengan demikian, apabila ditemukan keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak sesuai dengan pemeringkatan dalam DTSEN, data tersebut dapat diusulkan untuk dilakukan verifikasi dan pemutakhiran.
Pemerintah menekankan, tujuan utama DTSEN adalah menghadirkan data sosial ekonomi yang lebih akurat sehingga berbagai program perlindungan sosial dapat diberikan secara tepat sasaran.***


